Sabtu, 10 Januari 2009

Curahan Hati seorang calon Ayah

Pemikiran ini baru saja terbersit di pikiranku menjelang maghrib tadi. Sebenarnya apa sih tujuan pemerintah atau pemimpin itu ada. Untuk membuat bangsa terpercaya di mata bangsa lain, atau membuat semua orang merasa “sejahtera”. Lalu apa sejahtera itu sebenarnya? Dan untuk apa sebenarnya sejahtera itu dibutuhkan.

Bila kita mengingat masa kecil dulu, kita merasa nyaman saat orang tua menyediakan fasilitas dan keamanan bagi kita. Saat kita butuh sesuatu, mereka menyediakannya, saat kita merasa takut dan terintimidasi pihak luar, mereka melindungi kita, dan saat kita merasa sedih, mereka ada menghibur kita. Ya, merekalah pemerintah paling sukses di mata kita, merekalah orang tua.

Lalu, setelah kita merasa “nyaman” (sengaja aku memberi quote di kata nyaman ini, karena begitu luasnya pengertian nyaman ini) kita akan lebih mudah untuk bergerak, berkspresi dan melakukan hal yang ingin, layak, dan seharusnya kita lakukan, baik di mata kita anak kecil, maupun di mata mereka , orang tua.

Bila kembali lagi ke awal, mengapa aku mengemukakan ide ini, karena insya Allah, aku akan segera diberi amanah untuk dijadikan orang tua, kurang lebih satu semester lagi.

Sesuai dengan tujuan kita hadir di muka bumi ini, adalah untuk beribadah. Itu suatu kemutlakan dan kenyataan yang harus ditegakkan. Namun ibadah ini, sangatlah luas, bukan melulu kita jungkat jungkit sehari 5 kali atau lebih dengan menghadap arah pukul sepuluh, atau menahan lapar haus setiap setahun sekali selama 30 hari, tapi juga berhubungan dengan manusia, khususnya sesama muslim lainnya. Dan ini semua harus DIFASILITASI [titik]

Disinilah fungsi orang tua, harus memfasilitasi keluarga, khususnya anaknya untuk mencapao tujuan hidup, yakni beribadah.

-          Shalat adalah ibadah

-          Shaum adalah ibadah

-          Belajar adalah ibadah

-          Ta’lim adalah ibadah

-          Bercerita dan mendengar cerita hikayat Nabi dan orang shalih adalah ibadah

-          Tadarus adalah ibadah

-          Kumpul keluarga adalah ibadah

-          Kursus bahasa adalah ibadah

Ya… banyak sekali ternyata ibadah itu ya…. Semua butuh fasilitas. Dan untuk itulah kita , sebagai orang tua memfasilitasi anggota keluarga untuk bisa beribadah. Tidak ada toleransi lagi. Itu harus!

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan”. (An Nahl ayat 97)

Setelah aku hayati lebih dalam, memfasilitasi keluarga (dan orang lingkungan sekitar kalau bisa) untuk beribadah adalah sebuah ibadah juga. Sungguh indah bukan? Saat setiap orang saling tolong menolong dalam jalan Allah? Ya… ibadah itu luas. Ibadah itu ternyata tidak susah. Hanya mungkin kemampuan kita mengambil SKS ibadah di setiap semester kehidupan ini berbeda-beda, tergantung kemampuan dan semangat serta mungkin alasan klasik, NIAT.

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Al Maidah Ayat 2)

 

So….sekarang sudah clear kan What we livin in this world for ?

Dan begitu pulalah seharusnya pemerintah ini mengelola negara. Pemerintah adalah layaknya Orangtua yang melindungi anaknya, yakni warga negara.

“ Pemerintah berhak dan berkewajiban untuk memfasilitasi seluruh warga negarany untuk dapat beribadah kepada Allah SWT dengan aman, tenang dan penuh motivasi, sebagai hak dan kewajiban manusia hidup dan tinggal dia muka bumi agar tercapai negara yang Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghofuur. Segala bentuk gangguan dari luar negeri maupun luar aqidah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menanganinya”

Sebuah deskripsi singkat padat yang apabila pemerintah Indonesia dan negara lain di muka bumi implementasikan, agar kedamaian dan berkah Allah SWT tercurah kepada seluruh umat manusia.

Fauzi Fadillah

Sebuah Renungan kecil yang lahir tiba-tiba saja menjelang shalat maghrib.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar